This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

adsense

Jumat, 04 April 2014

Sejarah Pers: Kata "Merdeka" Pertama Terbit di Medan dalam Surat Kabar BENIH MERDEKA

JAUH sebelum proklamasi kemerdekaan republik ini, kata ”merdeka” sudah menjadi slogan sebuah koran di Medan, Sumatera Utara. Belum ada satu koran pun yang berani menyatakan slogan kemerdekaan saat itu. Namun, Benih Merdeka sudah memulainya di Medan tahun 1916.

Kata ”merdeka” bahkan menjadi nama surat kabar harian yang pada awal penerbitannya dipimpin Mohammad Samin. Benih Merdeka bukan saja nama sebuah koran, melainkan juga menjadi awal tersebarnya semangat pembebasan dari belenggu penjajah.

Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari mengatakan, Benih Merdeka menjadi pelopor penanaman ideologi kemerdekaan kepada pembacanya sebelum proklamasi.

Dari hasil penelitiannya, periode 1885-1942 terdapat 133 media cetak terbit di Sumut. Hanya Benih Merdeka yang dengan tegas mencantumkan kata ”merdeka”. Terbitnya Benih Merdeka di Medan sekaligus membuktikan sejarah perlawanan penjajahan tidak terpusat di Jawa saja. Di Sumatera Utara, perlawanan melalui pers berlangsung seru.

Dalam semboyannya, Benih Merdeka menyatakan sebagai koran Orgaan Oentoek Menoentoet Keadilan dan Kemerdekaan. Koran ini telah berjuang untuk kemerdekaan sejak 29 tahun lebih awal dari proklamasi. Pada September 1919, Benih Merdeka memuat pantun seorang penulis dengan nama samaran Van Arde. Pantun itu berbunyi ”Hindia bukan tanah wakaf, Hindia bukan nasi bungkus, Hindia bukan rumah komedi”.

Akibat pemuatan pantun ini, Pemerintah Belanda marah. Belanda memerkarakan Mohammad Yunus yang menjadi pimpinan saat itu. Muhammad To’ Wan Haria dalam bukunya, Sejarah Perjuangan Pers Sumatera Utara, menulis, pemerintah kolonial menilai Benih Merdeka melanggar ranjau pers. Namun, delik ini kandas karena tuduhan pelanggaran pers kepada Benih Merdeka tidak terbukti.

Surat kabar ini tetap terbit setiap hari, kecuali hari Senin, Jumat, dan Minggu. Koran ini dijual dengan harga 2,5 gulden per tiga bulan. Sebagaimana media cetak umumnya, koran ini juga memuat iklan aneka produk, salah satunya iklan buku. Dalam edisi Selasa 2 Juli 1918, Benih Merdeka mengiklankan sebuah buku Sekoentoem Boenga Jang Bermala. Dalam iklannya dibumbui dengan kalimat Satoe tjerita jang penting soedah terdjadi di Sumatra Timoer.

Buku yang diiklankan ini jelas bercerita tentang keadaan yang berkembang di Sumatera Timur (saat ini terdiri atas Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, dan Asahan, Labuhan Batu). Iklan ini sekaligus bukti pembaca koran ada di kawasan Sumatera Timur.

Meski banyak dibaca di Sumatera Timur, Benih Merdeka terbukti menjadi pelopor di seluruh wilayah Sumut. Kata ”merdeka” selanjutnya dipakai penerbit koran lain. Berdasarkan data dari Museum Pers Sumatera Utara, di Padang Sidimpuan pada 1919 terbit surat kabar Sinar Merdeka. Koran ini dipimpin oleh Parada Harahap yang kemudian dikenal sebagai tokoh pers. Dalam dua tahun penerbitannya, 12 kali Pemerintah Belanda memperkarakan tulisan koran ini.

Hukuman

Parada Harahap menerima hukuman. Sekitar tujuh bulan lamanya dia keluar masuk penjara. Parada selanjutnya bergabung dengan koran Benih Merdeka yang berubah namanya menjadi harian Merdeka. Kata ”merdeka” pada awal kemerdekaan selanjutnya menjadi nama surat kabar Soeloeh Merdeka terbitan Medan. Koran yang dipimpin Jahja Jakoeb ini sebelumnya bernama Soematera Baroe.

Sejarah perjuangan pers di Sumut ikut melahirkan tokoh pers nasional, di antaranya Parada Harahap, Adinegoro, Mohammas Said, Mohammad Samin, dan Dja Endar Muda. Mereka benar-benar menjadi pejuang pers ketika Indonesia belum merdeka. Tulisan-tulisan mereka membuat telinga petinggi Belanda memerah.

Pada tahun 1931, Pemerintah Hindia Belanda berusaha mengekang perkembangan pers di Nusantara. Gubernur Jenderal Hindia Belanda J de Jonge pada 7 September 1931 mengeluarkan aturan pemberangusan pers. Aturan itu kemudian dikenal dengan Persbreidel Ordonnantie. Salah satu keputusannya menyebutkan, seorang gubernur jenderal bisa melarang penerbitan media dengan alasan tertentu. Aturan ini termuat dalam Javasche Courant pada 11 September 1931 dan berlaku esok harinya setelah larangan itu termuat.

Langkah Pemerintah Hindia Belanda itu tidak lain untuk menjinakkan surat kabar, termasuk di Sumut. Jumlah 133 media cetak yang terbit di Sumut dalam kurun waktu 57 tahun merupakan hal yang luar biasa. Tradisi intelektual ini justru tumbuh jauh dari pusat konsentrasi Belanda di Jawa.

Sebagian media cetak yang terbit di Sumut sebelum kemerdekaan mewakili aneka ragam suku bangsa. Berikut ini sejumlah nama koran yang mewakili suku bangsa periode 1885-1942: Deli Courant, Pewarta Deli, Soeara Tapanuli, Poesaka Karo, Soeara Batak, Soeara Bondjol, Mandailing, Tjin Po, Hoa Kiaw, dan Soeara Djawa.

Terbitnya koran-koran ini sekaligus juga menepis anggapan miring kepada kelompok suku tertentu. Soeara Djawa, Tjin Po, dan Hoa Kiaw menegaskan bahwa bangsa Jawa dan Tionghoa yang ada di Medan dan sekitarnya bukan hanya sebagai kuli kontrak.

”Tradisi intelektual mereka terbukti berkembang saat perkebunan tembakau mencapai kejayaan,” katanya.

Maraknya penerbitan surat kabar di Medan dan Sumut umumnya tidak lepas dari berkembangnya industri perkebunan di pesisir timur. Surat kabar ”angkatan pertama” lahir dari pendanaan tauke tembakau.

Yang pertama

Surat kabar pertama kali yang terbit di Medan waktu itu bernama Deli Courant. Surat kabar berbahasa Belanda ini dipimpin Jacques Deen yang terbit pertama kali pada 18 Maret 1885.

Abdurrachman Surjomihardjo dan Leo Suryadinata dalam buku Sejarah Pers Indonesia menyebut Deen sebagai seorang miliuner tembakau Deli. Lima tahun berikutnya muncul Sumatra Post yang juga berbahasa Belanda. Keduanya bersaing merebut pembaca sampai menurunkan harga koran.

Mereka memasukkan Deli Courant dan Sumatra Post sebagai surat kabar Belanda tipe C. Surat kabar kategori ini mempunyai tiras 2.000 sampai 3.000 eksemplar per hari.

Dalam perkembangannya, pers berbahasa Melayu mulai muncul tahun 1902 di Medan. Adalah Pertja Timor yang mengawali surat kabar berbahasa Melayu meskipun dicetak di percetakan milik orang Belanda bernama J Hallerman. Koran ini terbit setiap hari Senin dan Kamis dengan Pemimpin Redaksi Mangaradja Salembuwe.

Dalam penerbitannya, surat kabar ini pernah membuat Sultan Maimoen Al Rasyid marah. Salembuwe mengkritik investasi asing besar-besaran di tanah Deli. Dia menggambarkan adanya ketidakadilan dalam investasi ini.

Hasil investasi ini salah satunya untuk membangun Gedung Kerapatan nan megah. Tulisan ini mendorong sultan mendatangi Kantor Pertja Timor untuk menemui penulisnya. Sayangnya, jejak gedung kerapatan kini hanya tinggal puing menara di Jalan Brigjen Katamso, Medan.

Jejak sejarah pers Sumut sayangnya tidak pernah tersimpan rapi di satu tempat. Sejarawan Ichwan Azhari bahkan banyak menemukan koran lama dalam bentuk aslinya di Belanda. Di Medan, sebagian data itu tersimpan di Museum Pers Sumut, Jalan Sei Alas Nomor 6.

Betapa berharganya lembaran-lembaran koran. Dari sana sebuah cerita perjuangan kemerdekaan bangsa terekam. Sebagaimana kehadiran jurnalisme untuk kepentingan demokrasi. (Andy Riza Hidayat)

Sumber: Kompas, Jumat, 12 September 2008



KAMPUNG HAMPARAN PERAK ASAL KOTA MEDAN

Pada tahun 1540 M, Mahkuta atau Manghuntal yang menjadi Panglima di Kerajaan Hatorusan yang berpusat di Barus dan Singkel--ditugaskan menumpas pemberontakan di pedalaman Batak, setelah sebelumnya berhasil mengusir Portugis dari perairan Singkel, memerintah di tanah Batak sebagai Sisingamangaraja I. Kedaulatannya ditransfer oleh Raja Uti VII yang kehilangan kekuasaannya.

Pemerintahan Sisingamangaraja I, hanya berlangsung sepuluh tahun. Sebelum putra mahkotanya, Manjolong, berumur dewasa, masih 12 tahun, Manghuntal dikabarkan menghilang dan tidak pernah kembali lagi.

Orang-orang Bakkara dan lingkungan Istana percaya bahwa Sisingamangaraja menghilang diambil Mulajadi Nabolon ke langit atau menganggapnya sebagai kejadian gaib. Manjolong akhirnya diangkat menjadi Sisingamangaraja II.

Belakangan dari kitab-kitab kuno bangsa Batak Karo diketahui bahwa Sisingamangaraja I ternyata berada di tanah Karo paska menghilangnya raja dari Bakkara. Tidak disebutkan sebab-sebab migrasi Sisingamangaraja. Apakah dia frustasi dengan keadaan rakyatnya yang terus bertikai dan bertengkar, walau sudah dibujuk untuk damai dengan benda-benda pusaka Raja-raja Uti, tidak diketahui dengan pasti.

Tapi melihat riwayat-riwayat budi pekerti sosok Sisingamangaraja I yang anti- perbudakan, anti-rentenir sehingga selalu membayar utang para rakyat yang terlilit hutang dan lain sebagainya, membuatnya banyak memiliki musuh dari elit-elit yang suka mengeksploitasi rakyat. Permusuhan itu, tidak saja dari lingkungan istana tapi bahkan dari kerabatnya sendiri, misalnya namborunya, yang tidak menyukai kebijakannya tersebut.

Paska kepindahannya ke tanah Karo salah satu cucunya yang bernama Guru Patimpus mendirikan huta yang sekarang menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Utara.

Nama medan merupakan sebuah desa yang dibangun oleh Guru Patimpus. Desa tersebut yang berfungsi sebagai ‘onan’ tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai penjuru untuk tujuan ekonomi, politik dan sosial. Onan itu berada di sebuah lapangan besar di mana diatasnya keramaian orang melakukan transaksi. Orang-orang Arab yang melihat peristiwa itu menyebut lapangan tersebut sebagai Maidan, lapangan luas, yang akhirnya menjadi Medan dalam lidah melayu.

Nama Medan dikenal berbeda-beda dalam sejarah, sesuai dengan perubahan penguasa atas kawasan ini. Kesultanan Haru, terdiri dari orang Karo yang menjadi prajurit Aceh, pernah menguasasinya dan medan lebih dikenal dengan Haru. Dominasi orang Haru diruntuhkan oleh orang Aceh dan mengangkat orang melayu menjadi pemimpin di daerah tersebut. Maka kemudian dikenal juga nama Ghuri dan Deli di tangan orang Melayu yang diangkat oleh Aceh dan dipengaruhi oleh budaya India Dehli sekarang dikenal Delhi.

Menurut riwayat Hamparan Perak salah seorang putera dari Sisingamangaraja bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai seorang anak bernama Guru Patimpus pergi merantau ke beberapa tempat di Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di kampung–kampung: Kuluhu, Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji, dan Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai Sikambing dan bertemu dengan Datuk Kota Bangun.

Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl. Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua dalam bentuk lempeng–lempeng. Menurut trombo yang ada padanya Raja–raja 12 Kuta (Hamparan Perak) adalah :

Dinasti Sisingamangaraja I, setelah menghilang dari Bakkara.

1. Sisingamangaraja, bernama aseli Mahkuta alias Manghuntal. Lahir di Bakkara, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M. Mempunyai dua anak, yang pertama adalah Manjolong, menjadi Sisingamangaraja II di Bakkaara dengan gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan memerintah 1550 s.d 1595 dan yang kedua adalah:
2. Tuan Siraja Hita, Di sana ia memperoleh tiga orang anak. Anak yang nomor dua menjadi raja di Kerajaan Pekan. Yang bungsu menjadi raja di Kerajaan Balige, Toba dan yang tertua bernama Patimpus alias Guru Patimpus.
3. Guru Patimpus, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590, mendirikan kota Medan. Puteranya adalah, (1) Benara, Raja di Benara (2) Kuluhu, Raja di Keluhu (3) Batu, pendiri kerajaan Batu, (4) Salahan, Raja di Salahan (5) Paropa, Raja di Paropa (6) Liang, Raja di Liang Tanah (7) Seorang gadis yang menikah dengan Raja Tangging (Tingging) (8) Janda yang menetap di Aji Jahe (9) Si Gelit (Bagelit), Raja di Kerajaan Karo Islam Sukapiring, daerah antara Medan sampai ke pegunungan Karo (10) Raja Aji, yang menjadi perbapaan Perbaji, (11) Raja Hita yang menjadi raja di Durian Kerajaan, Langkat Hulu (12) Hafidz Tua dengan panggilannya Kolok, tidak menjadi raja tapi ulama dan Hafidz Muda dengan panggilannya Kecik yang menjadi pengganti Guru Patimpus di Kerajaan Medan.
4. Raja Hafidz Muda
5. Raja Muhammadsyah putera Hafidz Muda, makamnya terletak di dekat makam puteranya Masannah, daerah Petisah Medan. Mempunyai tiga putera. Yang pertama adalah Masannah yang dikenal dengan Datuk Saudagar, dia menetap di Pulau Bening dan keturunannya berada di sana. Makamnya di samping makam ayahnya Muhammadsyah yang disebut 'Makam Melintang', anak yang kedua adalah Pangeran Ahmad yang keturunanya menetap di Petisah, Medan dan yang ketiga adalah Raja Mahmud yang menjadi pengganti Raja Muhammadsyah. Saat ini pusat kerajaan yang meliputi 2/3 dari kerajaan Patimpus dipindahkan ke Terjuan. Dia dimakamkan di sana. Raja Muhammadsyah memperlua kerajaan ke kawasan baru yang bernama Kuala Bekala dan Terjun. Kedua daerah ini kemudian disebut Marhom Muhammadsyah Darat.
6. Raja Mahmud putera Muhammadsyah, mempunyai dua putera mahkota. Pertama Pangeran Ali dan yang kedua Pangeran Zainal yang memilih tinggal di Klambir Tunggal dan kuburannya ada di sana.
7. Raja Ali putera Mahmud, memindahkan ibukota ke kawasan Buluh Cina. Kerajaan mulai makmur dengan perdagangan. Penghasilan kerajaan berasal dari ekspor lada besar-besaran ke Penang/Melaka. Mempunyai satu putera mahkota, Banu Hasyim dan satu puteri, Bujang Semba yang menikah dengan Sultan Panglima Mangedar Alam dari Kesultanan Deli. Masuknya pengaruh kekuatan Aceh dan orang-orang melayu yang berciri khas India Dehli. Kesultanan Deli sendiri didirikan oleh Sri Paduka Gocah Pahlawan Laksamana Khoja Bintan.
8. Raja Banu Hasyim putera Ali, menikah dengan puteri Manyak, kakak dari Datuk Sunggal Amar Laut. Dia memperluas kerajaan sampai ke kawasan Kampung Buluh. Mempunyai tiga anak. Pertama adalah Sultan Sri Ahmad, yang kedua adalah Sri Kemala, puteri yang menikah dengan Sultan Osman I dari Kesultanan Deli dan yang ketiga adalah Sri Hanum, seorang puteri yang menikah dengan Pangeran Kesultanan Langkat, Musa.
9. Sultan Sri Ahmad putera Banu Hasyim. Pusat kerajaan di pindahkan ke Pangkalan Buluh. Kerajaan Karo Islam mulai tergeser karena menguatnya Kesultanan Deli yang didukung oleh pihak Imperium Kesultanan Aceh. Sultan pernah menerima tamu bernama John Anderson pada tahun 1823. Kerajaan Islam Karo akhirnya takluk ke Kesultanan Deli dan Sultan akhirnya masuk menjadi pembesar Kesultanan Deli yang bergelar Datuk Panglima Setia Raja Wazir XII-Kota. Pemerintahannya di bawah Kesultanan Deli akhirnya dipindahkan ke Hamparan Perak. Dia meninggal dalam usia 119 tahun
10. Datuk Adil
11. Datuk Gombak
12. Datuk Hafiz Harberhan
13. Datuk Syariful Azas Haberham. Riwayat Hamparan Perak ini pernah disalin ke dalam bahasa Belanda dalam "Nota Over De Landsgrooten van Deli", juga dalam "Begraafplaatsrapport Gementee Medan 1928"

Berdasarkan bahan–bahan dari Panitia Sejarah Kota Medan (1972) termasuk Landschap Urung XII Kuta, ini dapat dilihat dari trombo yang disalin dalam tulisan Batak Karo yang ditulis di atas kulit–kulit Alin. Trombo ini mengisahkan Guru Patimpus lahir di Aji Jahei. Dia mendengar kabar ada seorang datang dari Jawi (bahasa Jawi bahasa Pasai Aceh, kemudian dikenal dengan bahasa Melayu tulisan Arab. Orang yang datang dari Jawi itu adalah orang dari Pasai keturunan Said yang berdiam di kota Bangun. Orang itu sangat dihormati penduduk di Kota Bangun kemudian diangkat menjadi Datuk Kota Bangun yang dikenal sangat tinggi ilmunya. Banyak sekali perbuatannya yang dinilai ajaib-ajaib.

Guru Patimpus sangat ingin berjumpa dengan Datuk Kota Bangun untuk mengadu kekuatan ilmunya. Guru Patimpus beserta rakyatnya turun melalui Sungai Babura, akhirnya sampailah di Kuala Sungai Sikambing. Di tempat ini Guru Patimpus tinggal selama 3 bulan, kemudian pergi ke Kota Bangun untuk menjumpai Datok Kota Bangun. Konon ceritanya dalam mengadu kekuatan ilmu, siapa yang kalah harus mengikuti yang memang. Dalam adu kekuatan ini, berkat bantuan Allah SWT Guru Patimpus kalah dan dia memeluk agama Islam, sebelumnya beragama Perbegu.

Dia belajar agama Islam dari Datuk Kota Bangun. Dia selalu pergi dan kembali ke Kuala Sungai Sikambing pergi ke gunung dan ke Kota Bangun melewati Pulo Berayan yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja Marga Tarigan keturunan Panglima Hali. Dalam persinggahan di Pulo Berayan, rupanya Guru Patimpus terpikat hatinya kepada puteri Raja Pulo Berayan yang cantik. Akhirnya kawin dengan puteri Raja Pulau Berayan itu, kemudian mereka pindah dan membuka hutan kemudian menjadi Kampung Medan. Setelah menikah, Patimpus dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang kini diperingati sebagai hari jadi kota Medan.

Putera Guru Patimpus Hafal Al-Qur'an

Dari perkawinan dengan puteri Raja Pulo Berayan lahirlah dua orang anak lelaki, seorang bernama Kolok dan seorang lagi bernama Kecik. Kedua putera Guru Patimpus ini pergi ke Aceh untuk belajar agama Islam. Kedua putera Guru Patimpus ini hafal Al Qur'an, karena itu Raja Aceh memberi nama untuk yang tua Kolok Hafiz, dan adiknya Kecik Hafiz.

Menurut trombo yang ditulis dalam bahasa Batak Karo di atas kulit Alin itu, Hafiz Muda kemudian menggantikan orang tuanya Guru Patimpus, menjadi Raja XII Kuta. Putera Guru Patimpus dari ibu yang lain bernama Bagelit turun dari gunung menuntut hak dari ayahandanya yaitu daerah XII Kuta. Setelah puteranya Bagelit memeluk agama Islam daerah XII Kuta yang batasnya dari laut sampai ke gunung dibagi dua. Kepada Bagelit diberi kekuasaan dari Kampung Medan sampai ke gunung. Akhirnya kekuasaan Bagelit dikenal dengan Orung Sukapiring. Sedangkan Hafiz Muda tetap menjadi Raja XII Kuta berkedudukan di Kampung Medan. Waktu itu Medan adalah sekitar Jalan Sungai Deli sampai Sei Sikambing (Petisah Kampung Silalas). Guru Patimpus dan puteranya Hafiz Muda yang menjadikan Kampung Medan sebagai pusat pemerintahannya.

Menurut trombo dan riwayat Hamparan Perak (XII Kuta) Guru Patimpus belajar agama Islam pada Datuk Kota Bangun. Menurut catatan sejarah Datuk Kota Bangun adalah seorang ulama besar, tapi tidak disebut namanya. Apakah Datuk Kota Bangun itu adalah Imam Siddik bin Abdullah yang meninggal 22 Juni 1590? Pertanyaan ini barang kali ahli sejarah dapat menjawabnya. Di masa dulu ulama–ulama besar lebih dikenal dengan menyebut nama tempat ulama itu berdomisili.
Menurut Prof. J.P. Moquette dan Tengku Luckman Sinar, SH, makam Imam Siddik bin Abdullah terdapat di Perkebunan Klumpang. Pada batu nisannya tertulis ulama dari Aceh Imam Siddik bin Abdullah meninggal 23 Syakban 998H (22 Juni 1590) 

sumber : http://auliaman.blogspot.com



Senin, 31 Desember 2012

New Chordex’s | Band Medan Era 80


Selamat sore dan selamat menikmati malam penghujung 2012.

Masih ingatkan New Chordex’s ? Coba Lihat Video Cover yang diunggah di Youtube
Generasi- New Chordex's (guitar & solo cover) 

  

 

New Chordex’s merupakan Band yang terkenal di tahun 80an. New Chordex’s memulai karier bermusiknya sekitar tahun 1985 dengan tampil mengisi acara di Taman Ria Medan (Sekarang Mall di Kota Medan "Carefour"). Kemunculan mereka membuat band bergenre rock ini mulai diminati warga Kota Medan dan Sumut. Melalui lagu Generasi dan Napas Kehidupan,New Chordex’s yang digawangi oleh Afis (drummer),Marwis (gitar), Mahar (bass), Caci (Keyboardis), dan Iskandar Sembiring (vokal) seakan membius para pecinta musik rock.

Hal ini terbukti dalam festival rock yang diadakan di Kota Medan dan kota lainnya di Sumut. Dalam penampilannya, New Chordex’s selalu meraih prosisi teratas.Prestasi-prestasi yang dicapai itu membuat nama band ini menjadi teratas dalam setiap kompetisi atau festival rock. Salah satu momen terpentingnya saat ikut lomba musik rock pada 1987 yang dimotori Ian Antono di Senayan.Ketika itu, lagu Bara Api berhasil dibawakan dengan baik oleh sang vokalis,Iskandar Sembiring. Dari sinilah,band ini terus dikenal hingga tingkat nasional.

Pada 1989,New Chordex’s mencatatkan namanya sebaga satusatunya band yang mengikuti Festival Rock se-Indonesia (Log Zhelebour V) di Kota Malang. Namun, pada keikutsertaan yang pertama ini mereka belum menorehkan prestasi “Pada kompetisi Log Zhelebour VI tahun 1991, New Chordex’s masuk di empat terbaik dan masuk dalam Album Kompilasi FESTIVAL ROCK INDONESIA V - 1989 dengan Lagu New Chordex's (Medan) - Generasi, serta Album Kompilasi FESTIVAL ROCK INDONESIA VI - 1991 dengan lagu New Chordhex's (Medan) - Nafas Kehidupan. Selain itu juga masuk kategori keyboard dan drum terbaik. Dari perjalanannya, New Chordex’s khususnya Iskandar, dipercayakan mendampingi Ahmad Albar dan Ian Antono dalam kegiatan tur di berbagai kota di Indonesia.

Bahkan, dalam beberapa kegiatan festival rock tingkat nasional, New Chordex’s sering menjadi pengisi acara. Sebuah Prestasi yang sangat membanggakan tentunya. 


New Chordex’s terakhir kali manggung (sayangnya hanya Vokalisnya aja Bang Iskandar) pada
Pagelaran musik bertajuk "Rock Spektakuler" yang diprakarsai Kampusi Promo di Lapangan
Benteng Medan,19-20 Maret 2011
membawakan lagu seperti Rumah Kita dan Kepada Perang

 
Demikian cerita singkat New Chordex’s Band yang dikutip dari berbagai media di Medan salah satunya Harian Seputar Indonesia terbitan 20 May 2012 


Download lagunya disini :
Generasi - new chordex
Nafas Kehidupan - new chordex's.mp3



Sabtu, 29 Desember 2012

Mahameru Band Kota Medan, Masih Eksiskah ?



mahameru di bentuk pertama kali oleh Ijal Arifin (sekarang Gitaris Peppermint) dan Dipo (Drummer mahameru)
pada tanggal 8 November 1995 di Medan tepatnya diruang kantor Radio Citra Buana Medan.

setelah sibuk kesana kemari mencari personil lainnya, maka didapatlah formasi awal mahameru:
aswin (lead & rhytm guitar), dipo (drum), zulfan (bass), ijal (lead & rhytm guitar,
sekarang di peppermint), puja (vocal), andry (keyboard).
dipilihnya nama mahameru karena simple, alami dan lebih meng Indonesia.

pada awalnya mahameru hanya membawakan lagu-lagu milik band nasional serta mancanegara.
selanjutnya, satu persatu ajang festival musik mulai diikuti,
mulai dari festival musik pelajar/mahasiswa local sampai festival musik berskala nasional.

pada awal 1997 terjadi perubahan besar di mahameru, dengan formasi yang baru:
aswin (lead & rhytm guitar), gagha (rhytm & lead guitar), avis (bass), dipo (drum), yudie (lead vocal).

mahameru mulai konsentrasi lagi ke panggung musik. mulai ajang pentas sekolah / kampus sekitar Medan sampai Aceh
dan juga menjadi band pembuka nugie & alv band, dewa, netral, mocca, slank, bip, peterpan,
clubeighties, ada band, radja, samson, ungu, iwan fals, naff, glenn fredly, melly guslow, pinkan mamboo, tahta, kapten, dll.
mahameru juga tampil di soundrenaline 2003 dan soundrenaline 2006 yang berlangsung di Medan
dan mendapatkan penghargaan "the most solid & united new comers band soundrenaline 2006"

pada awal 2003 mahameru merilis 2 single dalam bentuk mini album sentuhan kecil, bertitel biar dan flyin’
yang didistribusikan secara independent di kota Medan.
terbukti melalui 2 singel tersebut mahameru mendapat pengakuan yang cukup signifikan
dari apresiator musik di kota Medan, bahkan flyin' sempat menduduki
peringkat atas top request di Star FM selama satu bulan lebih.

lalu pada awal 2002 mahameru merilis album indie "sentuhan pertama",
album ini hanya diproduksi sebanyak 3000 keping dalam bentuk kaset dan 500 keping CD
dan di pasarkan dengan cara titip edar ke ET.45 dan distro2 yang ada di Medan
dan luar kota ketika mahameru manggung keluar kota.
3 single di album kedua ini flyin', k.s.b.s dan dinda menjadi single favorit beberapa radio di Medan dan luar kota.
diluar dugaan dalam waktu 3 bulan seluruh kaset dah CD habis terjual,
hal ini tentu saja sangat menggembirakan buat mahameru untuk lebih serius
dan semangat lagi dalam penggarapan album berikutnya

awal 2011 mahameru merilis album indie kedua " andai", yang mana proses pengerjaan album ini sangat panjang
dimulai dari awal 2005 dan selesai hingga akhir 2010, ini dikarenakan jadwal manggung yang benar-benar padat
dan ditambah dengan kesibukan masing-masing personil seperti mengurus studio baru, menikah, kerja dan berkebun sawit.
dibandingkan dengan album pertama, album kedua ini sangat jauh berbeda baik dari segi kualitas audio, karakter
warna musik hingga aransemen lagu. album kedua ini tampil dengan karakter rock yang sangat kuat.
dengan mengangkat tema-tema lagu dari kehidupan sehari-hari dan sepertinya album kedua inilah karakter sesungguhnya mahameru.

secara fisik album ini diproduksi sangat terbatas, hanya 1000 keping
hal ini memang disengaja dan hanya diperuntukkan buat teman-teman yg memang benar-benar ingin memiliki album fisiknya (CD).
selebihnya semua materi album kedua rencananya akan bisa di downdload secara gratis dalam bentuk mp3.

dengan dua album indie ini mahameru membuktikan bahwa mereka masih eksis
dan masih mensupport teman-teman serta junior-junior band mereka agar tetap kreatif dan terus menciptakan lagu-lagu yang bagus
serta tetap semangat di jalur indie medan...

[mahameru - 2012] www.delirockstation.com



Badak Minuman Soda Pertama Di Indonesia

Badak, Minuman Soda Pertama di indonesia | Asal Medan
 
Jangan terkaget bila Anda sedang makan di sebuah rumah makan di Kota Medan, Sumatera Utara, kemudian ditawari Badak! Tenang! Anda tidak akan ditawari sup daging badak! Sudah barang tentu bukan pula akan muncul sajian sate daging badak! Badak yang ini menyegarkan.

Badak adalah merek minuman bersoda yang berusia hampir seratus tahun. Di botol minuman tertera gambar badak bercula satu dan tulisan “Badak”. Badak telah melegenda di Kota Medan, Kota Pematang Siantar, dan sekitarnya. Badak dengan mudah ditemukan berdampingan dengan minuman bersoda lainnya, teh botol, dan air mineral di berbagai rumah makan.

“Bagi orang Medan dan Pematang Siantar, minuman Badak ini sangat terkenal. Sudah lama mereka mengenal. Kebanyakan dijual di restoran Tionghoa dan rumah makan Batak Toba,” kata Jhoni Siahaan, warga Medan.

Di salah satu rumah makan di Jalan KH Wahid Hasyim, barisan botol Badak berjajar di antara jajaran Coca-Cola, Fanta, Sprite, teh Sosro, Aqua, dan minuman lain. Mungkin, Badak satu-satunya minuman bersoda yang bisa bersaing dengan produk-produk bermerek internasional.

Bagi warga Medan dan Pematang Siantar, Badak telah menjadi bagian sejarah mereka sejak lama. Badak lebih dahulu dikenal dibandingkan dengan minuman bersoda dengan merek internasional dan teh botol itu. Badak telah hadir di Pematang Siantar dan Medan.

Tahun 1916, pabrik dengan nama NV Ijs Fabriek Siantar didirikan Heinrich Surbeck—pria kelahiran Halau, Swiss—di Kota Pematang Siantar. Perusahaan ini memproduksi es batu dan juga minuman bersoda. Melihat angka tahunnya, minuman ini diproduksi jauh sebelum minuman bersoda lainnya masuk ke Indonesia, seperti Coca-Cola yang diperkenalkan tahun 1927 dan baru diproduksi di Jakarta tahun 1932.

Tidak diketahui persis alasan Pematang Siantar dipilih sebagai lokasi pabrik. Hanya saja kota itu diperkirakan menghasilkan air yang bagus untuk es batu. Di sisi lain, kota itu yang dikelilingi perkebunan memiliki penduduk dengan kantong tebal, yang berarti pula berpotensi menjadi konsumen mereka pada masa itu. Pada masa lalu pejabat perkebunan dari daerah sekitar banyak beristirahat di Kota Pematang Siantar.

“Soal nama Badak saya tidak tahu persis. Setahu saya, Surbeck adalah sarjana teknik kimia yang juga pencinta alam. Ia memiliki banyak koleksi tumbuhan dan hewan kering. Saya menduga nama Badak diambil karena kecintaannya kepada alam,” kata Elman Tanjung (89) yang berkarier dari mulai menjadi pegawai rendahan pada 1938 hingga menjadi Direktur NV Ijs Fabriek Siantar.

Tanjung mengatakan, pabrik minuman ini berkembang pesat. Perusahaan yang juga mengelola pembangkit listrik dan hotel ini memproduksi sejumlah minuman bersoda dengan berbagai rasa, mulai dari jeruk, anggur, sarsaparila, hingga air soda. Salah satu rasa yang terkenal dan masih digemari masyarakat Pematang Siantar dan Medan adalah rasa sarsaparila, sebuah rasa yang diekstrak dari tumbuhan herbal yang berasal dari Meksiko. Orang Medan kadang menyebut “sarsi” untuk minuman, kependekan dari sarsaparila.
Kisah

Tanjung berkisah, pada zaman dahulu, selain minuman bersoda, NV Ijs Fabriek Siantar juga memproduksi sari buah markisa yang diekspor ke sejumlah negara, seperti Swiss, Belanda, dan Belgia, dengan merek Marquisa Sap. Akan tetapi, produksi ini kemudian terhenti.

Ketika pendudukan Jepang, pabrik ini masih bertahan. Penjajah Jepang menempatkan seorang wakilnya saat mengelola perusahaan ini. Pabrik tetap beroperasi seusai kemerdekaan. Akan tetapi, situasi kemudian berubah ketika Heinrich Surbeck dibunuh oleh laskar rakyat yang memberontak melawan Belanda seusai Proklamasi Kemerdekaan. Dua anak Surbeck sempat diungsikan ke Eropa sehingga mereka selamat.

Meski tanpa kehadiran keluarga Surbeck, NV Ijs Fabriek Siantar tetap beroperasi. Tanjung dan kawan-kawannya tetap mengelola usaha itu hingga kemudian salah satu anak Surbeck, yaitu Lydia Rosa, kembali ke Pematang Siantar pada tahun 1947. Di kota itu Rosa menikah dengan seorang pria Belanda bernama Otto. Otto kemudian mengelola usaha ini hingga tahun 1959.

Gonjang-ganjing di Tanah Air yang disertai isu nasionalisasi aset pada tahun itu menjadikan Otto menyerahkan pengelolaan NV Ijs Fabriek Siantar kepada Tanjung. Sampai tahun 1963, Otto dan Rosa masih berada di Indonesia hingga kemudian mereka keluar dari Indonesia menuju Swiss. Sejak saat itu Tanjung mengelola sepenuhnya usaha ini.

“Saat mengelola usaha ini saya berkenalan dengan Julianus Hutabarat. Ia juga seorang pengusaha. Saya sempat menceritakan kemungkinan pembelian NV Ijs Fabriek Siantar,” tutur Tanjung. Hutabarat yang bersama saudara-saudaranya telah memiliki usaha dengan nama Barat Trading Company ternyata berminat. Tanjung kemudian menyampaikan hal itu kepada Otto.


Pada tahun 1969 Hutabarat akhirnya membeli perusahaan itu. Ia membeli dengan cara mencicil hingga pada tahun 1971 perusahaan itu benar-benar menjadi milik Hutabarat sepenuhnya. Perusahaan ini berubah nama menjadi PT Pabrik Es Siantar. Sampai tahun 1987 Tanjung masih dipercaya mengelola perusahaan ini.


“Dulu produksi Badak hingga 35.000 kerat per bulan. Penjualan tidak hanya di Sumatera Utara, tetapi juga sampai ke Jawa,” kata Tanjung yang dibenarkan oleh Hendry Hutabarat dan Ronald Hutabarat, anak Julianus Hutabarat.

Ronald yang melanjutkan mengelola perusahaan itu menceritakan, nama Badak memang telah melekat di hati masyarakat Pematang Siantar dan Medan. Mereka mendapatkan konsumen fanatik. Ungkapan ini tidaklah sekadar ucapan jempol. Coba cari di internet dan Anda akan menemukan konsumen fanatik yang masih terkenang dengan Badak!

“Orang Medan dan Pematang Siantar yang telah berada di luar kota pun masih mengingat Badak. Setahu saya sampai sekarang masih ada rumah makan yang menjual Badak di Jakarta, tepatnya di Muara Karang,” tuturnya.

Ia mengenang, pada masa lalu PT Pabrik Es Siantar sangatlah masyhur. Mereka juga memasok listrik bagi Kota Pematang Siantar. Bahkan, untuk menghormati pengelola perusahaan ini, bioskop di Pematang Siantar menyediakan tujuh tempat duduk khusus bagi mereka. Tempat duduk dengan warga merah dan tulisan khusus untuk PT Pabrik Es Siantar tertera jelas di tempat itu.

“Ha-ha-ha… bahkan kalau di antara kami belum datang, film belum akan diputar. Mereka terpaksa menunggu kami datang,” tutur Ronald menceritakan kisah unik itu saat mereka remaja

Sayang

Sayang sekali produksi Badak sekarang agak berkurang. Produksi diperkirakan hanya tinggal separuh dibandingkan dengan pada saat mereka berjaya. Jenis rasa pun berkurang, sekarang hanya tinggal sarsaparila dan air soda. Banyak hal yang menjadikan produksi Badak menurun.

“Isu kesehatan seperti soal bahaya minuman bersoda menjadikan konsumen berkurang,” kata Hendry menyebut salah satu penyebab penurunan produksi minuman bersoda. Soal perubahan fokus usaha yang hanya memproduksi sarsaparila dan air soda, ia menuturkan, permintaan minuman bersoda lainnya sangat kecil sehingga produksinya sangat tidak efisien.

“Untuk membuat satu rasa kita harus membeli satu esens. Kemudian untuk memproduksi satu rasa kita harus membersihkan alat dan mesin minimal empat jam agar tidak terjadi pencampuran rasa. Karena kesulitan itu, kami hanya memproduksi sarsaparila dan air soda,” kata Hendry.

Ia melihat, sebenarnya Badak masih bisa dikembangkan lagi. Merek Badak yang telah masyhur juga menjadi aset penting sehingga bila usaha ini dikembangkan, mereka tak perlu membangun nama lagi.

Dari pembicaraan Kompas dengan beberapa orang terungkap sebenarnya sudah banyak pihak yang ingin bekerja sama untuk mengembangkan usaha ini. Beberapa investor bahkan bersedia menyiapkan dana untuk mengibarkan merek Badak. Mereka ingin merek Badak makin berjaya..

dari berbagai sumber



Sejarah Lonsum di Medan

Lonsum

Pada akhir abad ke 19, daerah Kesawan yang tadinya hanya berupa kampung biasa lambat laun telah berubah menjadi distrik komersial dan ekonomi di kota Medan. Jalan Kesawan diramaikan dengan berdirinya beberapa kantor perusahaan dagang, toko/kedai, bank dan restoran. Salah satu bangunan peninggalan era kolonial dan yg cukup terkenal ialah bekas kantor Perkebunan karet Harrisons & Crosfield atau yg saat ini dikenal dgn Gedung Lonsum. Gedung tersebut berada di ujung jalan Kesawan.

Gedung Lonsum selesai dibangun pada tahun 1909, bersamaan dengan lahirnya ratu Juliana (Dutch Royal family) dan pemiliknya ialah Perusahaan perkebunan karet British "Harrisons & Crosfield" company. Harrisons & Crosfield (H&C) didirikan oleh Trio Daniel Harrison, Smith Harrison and Joseph Crosfield pada tahun 1844 di Liverpool dan bergelut di bidang importir teh dan kopi. Pada akhir abad ke 19 sebelum melonjaknya harga karet semasa Perang Dunia kedua, H&C mulai tertarik untuk melakukan investasi usaha perkebunan karet dan mengoperasikan beberapa perkebunan di Malaysia, Srilangka, Sumatra, Papua dan India Selatan.

Berkembang dan meluasnya usaha perkebunan di Sumatra timur erat hubungannya dengan diberlakukannya ekonomi liberal yang diterapkan oleh Pemerintah kolonial. Pemerintah mengundang pengusaha(investor) untuk membuka sebanyak mungkin perkebunan-perkebunan baru di Sumatra Timur dengan sistim konsesi. Tentunya hal ini akan menguntungkan Pemerintah, dengan begitu pajak ekspor akan meningkat dan menambah pemasukan kas Pemerintah kolonial. Prospek usaha perkebunan di Sumatra timur dianggap cukup menguntungkan. H&C yang dulunya hanya berfokus pada perkebunan karet, seiring waktu telah merambah usaha perkebunannya di bidang teh, kopi, coklat, dan kelapa sawit. Perkebunan H&C diantaranya berada di Tebing tinggi, Pematang siantar dan daerah lainnya.

Selain usaha perkebunan di Sumatra, H&C juga berinvestasi dalam usaha pembalakan kayu di Kalimantan(Borneo), mereka menggandeng British North Borneo Co. dan kemudian membeli salah satu perusahaan pemain utama dalam usaha ini, yaitu China-Borneo co. Sementara usaha perkebunan di Sumatra timur dan pembalakan kayu sudah tidak menjanjikan lagi, pada era 1960-an H&C mulai beralih ke investasi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dan kemudian mereka membeli saham tiga perkebunan besar kelapa sawit yang beroperasi di Malaysia.

Tahun 1982, H&C menjual sahamnya kepada Sime Darby yang merupakan investor utama dalam perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan tahun 1994 menjual semua aset perkebunannya di Sumatra kepada London Sumatra Plantations Ltd(PT. London Sumatra Tbk). Akhirnya Gedung Juliana ini pun menjadi kantor London Sumatra Tbk dan sekaligus kantor British konsulat dan perpustakaan British council.

(dari berbagai sumber)



Minggu, 25 November 2012

Daftar Walikota Medan

WALIKOTA MEDAN SEKARANG



NO.
NAMA WALIKOTA MEDAN
MASA JABATAN


DARI TAHUN
SAMPAI TAHUN

ZAMAN BELANDA



Daniël Mackay
1918
1931

J.M. Wesselink
1931
1935

G. Pitlo
1935
1938

C.E.E. Kuntze
1938
1942





ZAMAN JEPANG



Shinichi Hayasaki
1942
1945

(早崎 真一 Hayasaki Shinichi?)







ZAMAN KEMERDEKAAN


1.
Luat Siregar
3 Oktober 1945
10 November 1945
2.
M. Yusuf
10 November 1945
Agustus 1947
3.
Djaidin Purba
1 November 1947
12 Juli 1952
4.
A.M. Jalaluddin
12 Juli 1952 -
1 Desember 1954
5.
Hadji Muda Siregar
6 Desember 1954
14 Juni 1958
6.
Madja Purba
3 Juli 1958
28 Februari 1961
7.
Basyrah Lubis
28 Februari 1961
30 Oktober 1964
8.
P.R. Telaumbanua
10 Oktober 1964
28 Februari 1965
9.
Aminurrasyid
28 Agustus 1965
26 September 1966
10.
Sjoerkani
26 September 1966
3 Juli 1974
11.
M. Saleh Arifin
3 Juli 1974
31 Maret 1980
12.
Agus Salim Rangkuti
1 April 1980
31 Maret 1990
13.
Bachtiar Djafar
1 April 1990
31 Maret 2000
14.
Abdillah
1 April 2000
20 Agustus 2008

Afifuddin Lubis (penjabat)
20 Agustus 2008
22 Juli 2009

23 Juli 2009
16 Februari 2010

Syamsul Arifin (penjabat)
16 Februari 2010
25 Juli 2010
15
26 Juli 2010
14 Mei 2013

15 Mei 2013
18 Juni 1014
16
18 Juni 2014
Sekarang